• Ngobrol yuk?

  • Tahukan Anda

    Yogyakarta / Jogja
  • Hits Status

  • Blog Stats

    • 61,826 hits

Rama, Kiprah Seorang “Blogger” Tunanetra – sebuah resensi

Sayapun terinspirasi…Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi dengan sahabat-shabat semua.. Tentang Seorang Tunanetra yang dengan segala kekurangannya mampu dan behasil menjadi salah satu idola (maksednye: diakui gitu loh) didunia internet… sebagai seorang bloger.. simak beritanya….

Sebuah Resensi..

Rama, Kiprah Seorang “Blogger” Tunanetra
Dalam buku tamu di blog miliknya, Eko Ramaditya Adikara menyebut dirinya
sebagai The Indonesian Blind Blogger. Rama, demikianlah ia biasa
dipanggil, memang seorang tunanetra. Namun, jika bertemu Rama jangan
sekali-kali mengasihaninya sebagai orang berkekurangan. Salah-salah kita
yang dikasihani karena terlalu banyak kekurangan!

Contoh saat dia mempraktikkan bagaimana menulis artikel di atas papan
ketik komputer pribadi yang diperuntukkan bagi orang normal (bukan papan
ketik Braille), Rama mampu menulis 60 kata per menit. Kemampuan itu
setara dengan pengetik profesional mana pun yang biasa bekerja di atas
papan ketik QWERTY. Rama bahkan tidak membuat kesalahan satu huruf pun
atas apa yang ia tulis secepat angin berlalu itu.

Mungkin Anda bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang tunanetra sejak
lahir mampu melakukan pekerjaan yang galibnya dilakukan orang normal?
Bagaimana mungkin dia menjadi blogger yang bukan hanya sekadar mengisi
kontennya, tetapi juga mendesain perwajahannya, bahkan dengan latar
belakang musik digital gubahannya? Bagaimana dia bisa bekerja di atas
laptop yang selalu dibawa ke mana pun ia pergi? Bagaimana pula Rama
mengerti perintah komputer yang jumlahnya tak terhitung itu? ”Saya
meninggalkan huruf Braille sejak sepuluh tahun lalu saat teknologi
pembaca layar (screen reader) hadir. Bagi saya itu sebuah revolusi.
Sampai sekarang praktis saya tidak menggunakan Braille lagi. Saya bisa
membaca buku atau menulis di komputer seperti mereka yang berpenglihatan
normal,” kata Rama saat kami temui pada sebuah acara Komunitas Multiply
Indonesia di Jakarta, Rabu (2/7) malam lalu.

Aplikasi pembaca layar yang digunakan Rama adalah JAWS, singkatan dari
Job Access With Speech. Ini sebuah peranti lunak yang dikembangkan Blind
and Low Vision Group di Freedom Scientific St Petersburg, Florida,
Amerika Serikat. Dengan JAWS yang pertama kali diluncurkan 1989 itu,
komputer apa pun asalkan menggunakan Microsoft Windows, dimungkinkan
dioperasikan oleh mereka yang menderita cacat penglihatan. JAWS mengubah
teks menjadi berbicara atau text-to-speech. Tahun 1992 JAWS lebih
dikenal luas seiring meluasnya penggunaan Microsoft Windows.

Rama memiliki domain sendiri untuk blog-nya, tetapi karena juga ngeblog
di Multiply, ia hadir dalam pertemuan para blogger Multiply yang
dimotori Sri Sarining Diyah tersebut. Pada malam itu, Rama menjadi
”bintang” di antara blogger dengan banyaknya peserta yang ingin berfoto
bersama. Rama tidak canggung berfoto. Bahkan, saat kaum perempuan
berebut berfoto ia nyeletuk, ”Wah, saya kayak raja semalam saja.”

Screen reader yang disebut Rama adalah peranti lunak yang memungkinkan
apa-apa yang tertulis di layar komputer atau layar ponsel bisa ”terbaca”
dengan cara bersuara. Saat Rama menulis menggunakan pengolah kata Word,
misalnya, mesin secara otomatis mengeluarkan suara atau mengeja apa pun
yang ia tulis. Kesalahan huruf pun akan diketahui dan segera diperbaiki.

Cara yang sama dilakukan Rama saat dia membaca buku Star Wars
kesukaannya. Ia pindai (scan) halaman demi halaman buku itu agar bisa
dibaca di layar komputer. Otomatis komputer akan membacanya dengan
mengeluarkan suara. Jangan heran jika ia mengoleksi dan sudah membaca
320 buku Star Wars. Pesan pendek (SMS) di ponselnya pun ditanam peranti
lunak pembaca layar serupa untuk kebutuhan mobile, yakni TALKS. Setiap
Rama membuka pesan pendeknya, suara mesin terdengar persis seperti apa
yang tertulis di layar ponsel.

*Percaya diri*

Karena berbekal kemampuan teknologi informasi itulah Rama ke mana-mana
membawa ponsel dan laptop Asus dengan layar 7 inci. Ponsel perlu untuk
berkomunikasi dan mengirimkan pesan, sementara laptop diperlukan untuk
menulis di blog atau menulis artikel untuk media online. Kegiatan
blogging dilakukannya sejak 2003 saat blog belum booming. Untuk itulah
buku tamunya sudah terisi oleh 464 netter yang memberi pesan.
Sebagaimana fatsun blogger, Rama menjawab sendiri semua pesan dan
komentar yang masuk.

Pemuda yang kini berusia 27 tahun sejak lahir memang sudah ditakdirkan
tunanetra. Sempat berhasil ditolong dengan operasi pembuatan diafragma
buatan pada mata kanan sehingga mampu melihat 10 persen, tetapi setelah
itu dia buta total. Meskipun menderita cacat netra, ayahnya, Rahadi
Sudarsono, tidak memperlakukannya sebagai ”orang buta”. Sang ayah
memperlakukan anaknya secara wajar sebagaimana orang normal, kecuali
dalam hal merekam pelajaran saat Rama duduk di bangku SLTA.

”Bapak merekam semua buku pelajaran ke dalam kaset, sementara ibu
membantu dengan doa dan dukungan moril,” kata Rama sebagaimana tertulis
dalam blog-nya.

Rasa percaya diri itulah yang ditumbuhkan Rahadi kepada anaknya,
sementara Rama menerimanya sebagai sebuah ”tantangan” karena ternyata
tunanetra pun bisa mandiri tanpa harus bergantung kepada orang normal.
Itu sebabnya, di semua artikel yang ditulisnya di blog, tidak ada kata
mengiba-iba dan meminta dikasihani. Sebagai gantinya, ia memberi harapan
dan optimisme. Ironisnya, harapan dan optimisme itu lebih ia tujukan
kepada orang berpenglihatan normal yang membaca blog-nya.

*Tawarkan harapan*

Kepada sesama tunanetra, ia menawarkan harapan dan mengajarkan pantang
berputus asa. Misalnya, ia memberi tips yang positif bagi penyandang
tunanetra. ”Bagi tunanetra bisa naik pesawat terbang itu suatu
keistimewaan, maka saya pun menulis tips bagaimana naik pesawat bagi
tunanetra,” katanya.

”Saya ini (tunanetra) sudah beda (dengan orang normal), tetapi saya
ingin berbeda dari perbedaan itu,” kata Rama mengenai filosofi hidupnya.
Saat diminta menjelaskan lebih dalam makna hidupnya itu, ia mengatakan,
”Saya ingin berbeda dari rekan-rekan sesama tunanetra.”

Kalau sekadar prinsip itu, sebenarnya Rama memang beda dan bahkan
istimewa dibanding tunanetra lainnya, setidaknya dalam urusan teknologi
informasi. Bayangkan saja, selain menguasai berbagai program peranti
lunak, dari yang paling ”jadul” seperti DOS (Disc Operation System),
WordStar, sampai Windows Vista yang terbaru, ia juga mampu mengutak-atik
perangkat keras komputer. ”Saya pernah merakit komputer. Memang pakai
kesetrum dan ’ledakan’ segala, tetapi alhamdulillah berhasil,” kenangnya
sambil terkekeh.

Rama mulai mengenal ”komputer” saat berusia lima tahun, yakni ketika
Game Atari mulai muncul dan kebetulan dimiliki salah seorang
tetangganya. Tahun 1996, seorang mahasiswi bernama Silvi mengajarinya
mengetik 10 jari karena terkesan dengan tekad Rama yang mati-matian
belajar menulis di WordStar.

Perjalanan hidup Rama dalam urusan ilmu komputer pun berubah ketika JAWS
lahir dengan pembaca layarnya. Ibarat menemukan tongkat ajaib yang telah
lama hilang, perjalanan Rama di bidang teknologi informasi seperti tidak
terbendung. Ia kini ”mampu melihat” dan belajar tentang apa pun sesuka dia.

Dia membaca hampir semua buku best seller dan mengaku apa yang sudah
dibacanya seperti menempel terus di ingatannya. Pengalaman interaksinya
dengan buku dan teman-teman ia tuangkan dalam catatan harian di blog-nya.

”Bagi saya, blog sudah menjadi kehidupan kedua,” kata Rama yang pada
Agustus mendatang menerbitkan dua buku dari hasil ngeblog-nya itu.

Dikutip dari : http://ramaditya.multiply.com/journal/item/58
Original link (Kompas Cetak, Rubrik SOSOK Halaman 16):
http://http://cetak.kompas.com/sosok

Satu Tanggapan

  1. Buat Rama,….
    Allah senantiasa mengiringi setiap gerak langkah kita. Semoga Rama semakin diberikan keberkahan. Amiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: